CENDERAWASIH DAN LAMBANG IRIAN JAYA

BURUNG cenderawasih, meski hidup juga di Kepulauan Maluku dan
Australia, namun sosoknya identik dengan Propinsi Irian Jaya. Lambang
propinsi tertimur Indonesia ini, memakai gambar burung cenderawasih 12
antena (Seleucidis melanoleuca).

Burung molek dan langka ini, berparuh panjang, seluruh bagian tubuhnya
berbulu hijau. Tubuh bagian bawah berwarna kuning. Ekornya memang
mirip antena berjumlah 12. Burung ini memiliki perkembangan yang
terbatas, karena hanya mampu bertelur sebuah setiap siklus
perkembangbiakan.

Lalu burung merah dalam kisah Logohu, rasanya mewakili jenis
cenderawasih merah (Paradiseae ragiana). Unggas ini bermata hitam
tajam, kepala berbulu kuning cerah sampai ke leher. Tenggorokannya
berwarna hijau keemasan, tubuhnya berwarna coklat tua dan sayapnya
berwarna coklat muda. Di bawah kanan kiri sayap, ada bulu panjang
berjurai sampai ke ekor berwarna merah jambu bercampur kuning
keemasan.

Cenderawasih merah ini, hidup dalam tepian hutan primer atau sekunder
sampai ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut. Makanannya
buah-buahan dan serangga. Sarangnya berbentuk mangkuk di atas pohon
dalam ketinggian 3 sampai 10 meter dari permukaan tanah.

Ada lagi burung cenderawasih paruh sabit cokelat (Epimachus meyeri
Finsch). Hampir seluruh tubuh burung ini berwarna cokelat tua maupun
muda mengkilat. Dihias warna biru emas pada bagian bawah sayap
memanjang sampai ke ujung ekor. Paruhnya panjang melengkung seperti
sabit, ekornya juga panjang lancip, membentuk seperti bilah tombak.

Burung ini hidup dalam ketinggian hutan 2.200 – 3.125 meter di atas
permukaan laut. Burung ini memakan buah-buahan, biji-bijian, serangga
dan juga anak katak. Masa berkembang biak dari April – Agustus,
sarangnya menyerupai mangkok terbuat dari lumut dan akar-akaran.
Bertelur hanya satu butir.

Lagi, cenderawasih superba (Lophorina superba), hidup dalam hutan pada
ketinggian 1.300 – 2.300 meter di atas permukaan laut. Burung ini tak
kalah indahnya. Matanya hitam tajam, demikian seluruh bulunya hitam
mengkilat. Sementara sayapnya membentuk sisik ikan berwarna biru tua
dan muda, dengan jambul juga berwarna biru.

***

MASIH banyak spesies cenderawasih yang lain. Menurut catatan Kantor
Sub Balai KSDA, Irja memiliki 26 jenis burung cenderawasih. Namun 10
spesies lainnya sudah sulit ditemui di Irja, dan hanya bisa dilihat di
negara tetangga, Papua Niugini.

Begitu indahnya burung cenderawasih, sampai – sampai burung ini
disebut sebagai burung surga sesuai dengan nama spesiesnya Paradisaea
ragiana. Bahkan kepercayaan penduduk asli Irian yang terdiri dari 200
lebih suku, menyebut sebagai burung yang menjadi lambang kebesaran
para dewa. Bahkan sejak pada abad XIII bangsa Belanda dan juga bangsa
Eropa lainnya sudah banyak yang memelihara burung ini. Mereka menyebut
sebagai burung penyelamat.

Pada zaman dulu, dalam kehidupan suku pedalaman Irja, memang ada
aturan-aturan yang sifatnya melindungi burung cenderawasih. Lihatlah
suku Marind Anim di pedalaman Merauke misalnya, yang mitosnya dikenal
sebagai manusia sejati. Dalam upacara adat, mereka tidaklah lengkap
kalau belum beraksesori mahkota bulu cenderawasih.

Pemakaian bulu cenderawasih, memang simbol tradisi sebuah kebesaran.
Tetapi tak semua warga suku itu mengenakan bulu burung ini. Hanya
kepala suku dan petinggi warga itu yang memakai hiasan ini. Makanya,
dalam kehidupan sehari-hari, warga biasa suatu kelompok suku ini,
dilarang keras menangkap dan memakai mahkota dari burung cenderawasih.
Mereka yang ketahuan berburu burung cenderawasih akan mendapat
hukuman. Aturan yang diciptakan kepala suku pedalaman pada zaman dulu
itulah, nampaknya mampu melestarikan cenderawasih.

***

NAMUN zaman sudah berubah pesat. Sejak bumi Irian Jaya kemasukan orang
asing, Ynigo Ortiz de Retes pada tahun 1545, serta bercokolnya kompeni
dagang VOC Belanda di sana, terjadilah kontak perdagangan dengan suku
pedalaman di sana.

Kontak itu ditandai dengan masuknya keramik, benda logam dan lainnya.
Untuk mendapatkan benda impor itu, orang Irian harus membayar dengan
burung cenderawasih. Perkembangan selanjutnya, cenderawasih bukan lagi
menjadi alat bayar, tetapi lebih menjadi komoditi perdagangan gelap.

Sejarah tinggal sejarah. Tapi pengulangan peristiwa itu masih terjadi.
Irian Jaya yang terkenal dengan cenderawasihnya, mau tak mau harus
berupaya menahan laju pemusnahan burung ini. Mumpung cenderawasih
merah itu lambangnya Propinsi Irian Jaya, mau tak mau burung itu harus
dilindungi. Kalau tidak, bagaimana?

~ oleh welkis pada Oktober 23, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: